Rabu, 08 Oktober 2014

Makalah hisab & rukyat

BAB I
Pendahuluan


A.    Latar Belakang
Penentuan awal bulan ramadhan dan 1 syawwal serigkali menghasilkan perbedaan dan memicu konflik pada masyarakat. Perbedaan penetapan tersebut sering terjadi pada beberapa ormas-ormas islam dan lembaga kepemerintahan di Indonesia. Sedangkan untuk menentukan masuknya 1 ramadhan dan 1 syawaal ormas islam atau organisasi keagamaan ada yang lebih memilih untuk menggunakan salah satu dari metodenya yakni antara hisab maupun rukyat saja. Namun ada juga yang menggunakan kolaborasi kedua metode tersebut (hisab dan rukyat).
Hisab dan Rukyah, sebagai alat yang diperlukan bagi setiap muslim untuk menimbulkan keyakinan masuknya awal bulan Qamariyah dan bagi para penguasa dalam menetapkan awal bulan Qamariyah mengenai kekuatan hukumnya, telah diatur baik dalam Al Qur’an ataupun Al Hadits.
Perbedaan penentuan awal puasa dan 1 syawwal, ternyata perbedaan itu sekedar pada penetapan kriteria. Menurut para ahli penyebab perbedaan itu bukanlah perbedaan metode hisab (perhitungan) dan rukyat (pengamatan), namun lebih banyak karena perbedaan dalam memahami ketentuan yang tertulis dalam kitab suci Al Quran dan hadits Nabi Muhammad SAW.
Menghadapi kenyataan tersebut tentunya harus memahami menginterpretasikan teks-teks dalam Al Quran maupun hadits. Maka keikutsertaan perkembangan pemikiran masyarakat pun sangat diperlukan, dan justru dalam interpretasi yang paling tepat atau berimbang dengan perkembangan zaman, terutama pada saat-saat memberi penetapan masuknya awal bulan puasa ramadhan dan 1 syawwal.
Beberapa ayat yang dapat dijadikan sebagai sumber hukum antaralain : A) Surat Al Baqarah (2) Ayat 185 (penggalan ayat) à yang artinya: karena itu, barang siapa diantara kamu menyaksikan (masuknya) bulan Ramadlan maka hendaklah ia berpuasa. (Depag RI, 1997, 45) B) Surat Yunus (10) ayat 5 à artinya : Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya. Dan Allah telah menetapkan manzilah-manzilah, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu. C) Surat Ar Rahman (55) ayat 5 à Artinya: Matahari dan bulan ( beredar ) menurut perhitungan.
Adapun hadits Nabi Muhammad SAW yang dapat dijadikan sebagai sumber hukum yaitu:
1) Artinya : manusia bersama-sama merukyah hilal. Kemudian saya memberitahukan kepada Nabi bahwa saya melihatnya. Lalu Nabi siap berpuasa dan menyuruh orang-orang berpuasa. (H.R. Abu Dawud dari Ibnu Umar dan Dinyatakan shahih oleh Al Hakim dan Ibnu Hibban).
2) hadits yang mendasari wajibnya seorang muslim berpuasa dan berbuka adalah hadis Nabi saw:  صوموﺍ لرﺅيته ﻭﺃﻔﻁﺭﻭا لرﺅيته ﻔﺈﻥﻏﻡ ﻋﻠﻴﮑﻡ ﻔﺄﻜﻤﻠﻭﺍ ﻋﺩﺓ ﺸﻌﺒﺎن ﺜﻼﺜﻴﻥ
(ﺭواهﺍﻠﺒﺨﺎﺭﻯوﻤﺴﻠﻡ)
Artinya:“Berpuasalah kalian karena melihat (ru’yah) hilal, dan berbukalah karena melihat hilal. Maka jika ia tertutup awan bagimu, maka sempurnkanlah bilangan Sya’ban 30”.     (HR. Bukhori dan Muslim)
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian metode hisab?
2.      Apa pengertian metode rukyat?
3.      Bagaimana penetapan 1 syawal dan 1 ramadhan menurut ormas islam di Indonesia?
4.      Mengapa muhammadiyah lebih menggunakan metode hisab?
C.     Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui masuknya bulan ramadhan dan 1 syawal dengan penentuan hisab dan rukyat, serta mengetahui alasan mengapa muhammadiyah lebih menggunakan metode hisab dari pada rukyat.



BAB II
ISI

1.      Pengertian Metode Hisab
Hisab menurut bahasa berarti hitungan, perhitungan, arithmetic (ilmu hitung), reckoning (perhitungan), calculus (hitung), computation (perhitungan), estimation (penilaian, perhitungan), appraisal (penaksiran).
Sementara menurut istilah, hisab adalah perhitungan benda-benda langit untuk mengetahui kedudukannya pada suatu saat yang diinginkan. Apabila hisab ini dalam penggunaannya dikhususkan pada hisab waktu atau hisab awal bulan maka yang dimaksudkan adalah menentukan kedudukan matahari atau bulan sehingga diketahui kedudukan matahari dan bulan tersebut pada bola langit pada saat-saat tertentu.
Hisab bermakna melihat dengan ilmu atau melakukan perhitungan peredaran bumi terhadap matahari dan bulan pada bumi. (Farid Ruskanda, 1995:19)
Sedangkan hisab yang dipakai Muhammadiyah adalah hisab wujud al hilal, yaitu metode menetapkan awal bulan baru yang menegaskan bahwa bulan Qamariah baru dimulai apabila telah terpenuhi tiga parameter: telah terjadi konjungsi atau ijtima', ijtima' itu terjadi sebelum matahari terbenam, dan pada saat matahari terbenam bulan berada di atas ufuk.”
Dasar digunakannya hisab sebagai metode dalam penentuan awal bulan kamariyah antaralain adalah Q.S. al-Baqarah,2:185 dan 189, Q.S. Yunus, 17:5, Q.S. al-Isra, 10:2, Q.S. An-Nahl, 16:16, Q.S. at-Taubat, 9:36, Q.S. al-Hijr, 15:16, Q.S. al-Anbiya, 21:33, Q.S. al-An’am, 6:96 dan 97, Q.S. ar-Rahman, 55:5, Q.S. Yasin, 36:39 dan 40.
Adapun hadits yang digunakan salah satunya adalah “Dari Ibnu Umar r.a., ia berkata: Aku pernah mendengar Rasulallah Saw. bersabda: Bila kamu telah melihat tanggal satu bulan Ramadhan, maka puasalah, dan bila kamu melihat tanggal satu Syawal, maka berhari rayalah. Tetapi bila terlihat mendung, maka perkirakanlah (sesuai dengan hari perhitunggan)”. (Hadits disepakati oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim)


Macam-macam metode hisab antara lain:
a.       Hisab Urfi
“Urfi” berarti kebiasaan atau kelaziman (Farid Ruskanda, 1995: 17). Hisab Urfi adalah hisab yang melandasi perhitungannya dengan kaidah-kaidah sederhana. Pada system hisab ini, perhitungan bulan qomariah ditentukan berdasarkan umur rata-rata bulan sehingga umur bulan dalam setahun qomariah barvariatif diantara 29 dan 30 hari.
Pada system hisab urfi ini, bulan yang bernomor ganjil dimulai dari bulan Muharram berjumlah 30 hari, sedangkan bulan yang bernomor genap dimulai dari bulan Shafar berjumlah 29 hari. Tetapi khusus bulan Dzulhijjah (bulan ke-12) pada tahun kabisat berjumlah 30 hari. Dalam hisab urfi juga mempunyai siklus 30 tahun (1 daur) yang di dalamnya terdapat 11 tahun yang disebut tahun kabisat (panjang) memiliki 355 hari pertahunnya dan 19 tahun yang disebut tahun basithah (pendek) memilik 354 hari pertahunnya. Tahun kabisat ini terdapat pada tahun ke-2, 5, 7, 10, 13, 16, 18, 21, 24, 26 dan ke-29 dari keseluruhan selama 1 daur (30 hari). Dengan demikian, periode umur bulan menurut hisab urfi adalah (11 X 355 hari) + (19 X 354 hari) : (12 X 30 tahun) = 29 hari 12 jam 44 menit, walau terlihat sudah cukup teliti, namun yang menjadi masalah adalah aturan 29 dan 30 hari serta aturan kabisat yang tidak menunjukan posisi bulan yang sebenarnya dan sifatnya hanya pendekatan saja. Oleh sebab itulah, maka system hisab urfi ini tidak dapat dijadikan acuan untuk penentuan awal bulan yang berkaitan dengan ibadah misalnya bulan Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah.
b.      Hisab Taqribi
Dalam bahasa arab, “Taqrobu” berarti pendekatan atau aprokmasi. Hisab taqribi adalah sistem hisab yang sudah menggunakan kaidah-kaidah astronomis dan matematis, namun masih menggunakan rumus-rumus sederhana sehingga hasilnya kurang teliti. System hisab ini merupakan warisan dari para Ilmuan Falaq Islam masa lalu dan hingga sekarang system hisab ini menjadi acuan pembelajaran hisab di berbagai pesantren di Indonesia.
c.       Hisab Haqiqi
Haqiqi berarti realitas atau yang sebenarnya, system hisab haqiqi ini sudah mulai menggunakan kaidah-kaidah astronomis dan matematis serta rumus-rumus terbaru dilengkapi dengan data-data astronomis terbaru sehingga memiliki tingkat ketelitian standar. Hanya saja, kelemahan dari system hisab ini ketika menggunakan kalkulator yang mengekibatkan digit angka hasil hisab kurang sempurna karena banyak bilangan yang terpotong akibat jumlah digit kalkulator yang terbatas. Beberapa system hisab haqiqi yang berkembang di Indonesia diantaranya adalah: Hisab haqiqi, Tadzkiroh Al-ihwan Badi’ah Al-mitsal dan Menara Qudus An-nahij Al-hamidiyah Al-khuasial Wafiyah dan lain sebagainya.
d.      Hisab Haqiqi Tahqiqi
Hisab ini Merupakan pengembangan dari system hisab haqiqi yang diklaim oleh penyusunnya memiliki tingkat akurasi yang sangat tinggi sehingga mencapai derajat pasti. Derajat pasti ini sudah dibuktikan secara ilmiah dengan menggunakan kaidah-kaidah ilmiah juga. Dan perhitungannya telah menggunakan system komputerisasi sehingga bilangan angka tidak ada yang terpotong. Contoh hisab haqiqi tahqiqi adalah Alfalaqiyah Nurul Anwar.

2.      Pengertian Metode Rukyat
Rukyat  menurut bahasa berasal dari kata ra’a, yara, ra’yan, wa ru’yatan yang bermakna melihat, mengerti, menyangka, menduga dan mengira, memperhatikan/melihat dan discern (melihat). Dalam khazanah fiqh, kata rukyat lazim disertai dengan kata hilal sehingga menjadi rukyatul hilal yang berarti melihat hilal (bulan baru). Rukyatul hilal ini berkaitan erat dengan masalah ibadah terutama ibadah puasa.
Rukyat menurut istilah adalah melihat hilal pada saat matahari terbenam tanggal 29 bulan Qamariyah. Kalau hilal berhasil dirukyat maka sejak matahari terbenam tersebut sudah dihitung bulan baru, kalau tidak terlihat maka malam itu dan keesokan harinya masih merupakan bulan yang berjalan dengan digenapkan (diistikmalkan) menjadi 30 hari.
Menurut Susiknan Azhari, (2008:183) “Rukyatul hilal adalah melihat atau mengamati hilal pada saat matahari terbanam menjelang awal bulan komariah dengan mata atau teleskop. Dalam astronomi dikenal dengan observasi”.
kelebihan rukyat (observation), pertama, observasi merupakan metode ilmiah yang akurat. Hal itu terbukti dengan berkembangnya ilmu falak (astronomi) pada zaman keemasan Islam.
Kelemahan rukyat, pertama , hilal pada tanggal satu sangat tipis sehingga sangat sulit dilihat oleh orang biasa (mata telanjang), apalagi tinggi hilal kurang dari dua derajat. Selain itu ketika matahari terbenam (sunset) di ufuk sebelah Barat masih memancarkan sinar berupa mega merah (asy-syafaq al-ahmar). Kedua, kendala cuaca. Di udara terdapat banyak partikel yang dapat menghambat pandangan mata terhadap hilal, seperti kabut, hujan, debu, dan asap. Gangguan-gangguan ini mempunyai dampak terhadap pandangan pada hilal, termasuk mengurangi cahaya, mengaburkan citra dan mengaburkan cahaya hilal. Ketiga, kualitas perukyat. Keempat, kalau menggunakan istikmal, mungkin saja bulan sudah ada. Artinya kalau memenuhi perintah teks hadits, yaitu misalnya tidak berhasil melihat hilal , maka hendaknya menyempurnakan bulan Sya’ban 30 hari. Padahal menurut perhitungan ilmu falak (astronomi) pada tanggal 30 itu hilal sudah berada di atas ufuk (horizon), berarti penanggalan bulan baru sudah bisa dimulai.

3.      Penetapan 1 ramadhan dan 1 Syawwal menurut Ormas Islam di Indonesia
a.       Muhammadiyah
Muhammadiyah dalam penentuan awal bulan menggunakan sistem hisab hakiki wujudul hilalartinya memperhitungkan adanya hilal pada saat matahari terbenam dan dengan dasar Al-Qur'an Surah Yunus ayat 5 di atas dan Hadis Nabi tentang ru'yah riwayat Bukhari. Memahami hadis tersebut secara taabudi atau gairu ma'qul ma'na/tidak dapat dirasionalkan, tidak dapat diperluas dan dikembangkan sehingga ru'yah hanya dengan mata telanjang tidak boleh pakai kacamata dan teropong dan alat-alat lainnya, hal ini terasa kaku dan sulit direalisasikan. Apalagi daerah tropis yang selalu berawan ketika sore menjelang magrib, jangankan bulan, matahari pun tidak kelihatan sehingga ru'yah mengalami gagal total.
Hadis tersebut kalau diartikan dengan Ta'qul ma'na artinya dapat dirasionalkan maka ru'yah dapat diperluas, dikembangkan melihat bulan tidak terbatas hanya dengan mata telanjang tetapi termasuk semua sarana alat ilmu pengetahuan, astronomi, hisab dan sebagainya. Sebaliknva dengan memahami bahwa hadis ru'yah itu ta'aquli ma'na maka hadis tersebut akan terjaga dan terjamin relevansinya sampai hari ini, bahkan sampai akhir zaman nanti. Dan muhammadiyah tidak melanggar  ketentuan pemerintah dalam soal ketaatan beragama sebab pemerintah membuat pengumuman bahwa hari raya tanggal sekian dan bagi umat Islam yang merayakan hari raya berbeda berdasarkan keyakinannya, makadipersilahkan dengan sama-sama menghormatinya.
b.      Nahdhatul Ulama (NU)
Dalam menentukan awal bulan Qamariyah yang ada hubungannya dengan ibadah, Nahdhatul Ulama berpegang pada beberapa hadits yang berhubungan dengan rukyat. Di samping hadits, Nahdhatul Ulama juga berpegang pada pendapat para ulama yaitu para Imam Mazhab selain Hambali, dimana imam mazhab tersebut menyebutkan bahwa awal Ramadhan dan Syawwal ditetapkan berdasarkan ru’yah al-hilãl dan dengan istikmal. Penetapan ini diambil berdasarkan alasan-alasan syar’i yang dipandang kuat untuk dijadikan pedoman peribadatan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Untuk melacak metode yang digunakan Nahdlatul Ulama dalam menentukan awal bulan Qamariyah, maka ada tiga fatwa yang berkaitan dengan metode rukyat yang digunakan organisasi ini. Fatwa pertama, tahun 1954 sebagaimana dikutip Hooker berisi dua pernyataan; (a) menentukan waktu berdasarkan hisab tidak digunakan pada masa Nabi dan Khulafaur Rasyidin; tidak dibolehkan membuat pernyataan publik untuk menentukan awal puasa berdasarkan hisab tanpa adanya pengumuman dari Menteri Agama. Hal ini dilakukan “untuk mencegah keributan di kalangan umat Islam. Fatwa kedua, tahun 1983, isinya juga berisi tidak ada kewajiban untuk menerima penentuan puasa dengan cara hisab.
Adapun fatwa ketiga, yang dibuat pada tahun 1987 isinya lebih terperinci dan merujuk pada hasil fatwa tahun 1983. Berikut adalah ringkasan dari fatwa tersebut sebagaimana diringkas oleh Hooker “Melihat bulan (ru’yah) sebagai dasar untuk menetapkan tanggal puasa telah dilakukan oleh Nabi Muhammad dan Khulafa al-Rasyidin dan dilakukan oleh empat mazhab. Sementara itu penghitungan berdasarkan ilmu falak tidak pernah diajarkan oleh Nabi dan kesahihannya ditentang para ulama. Pernyataan publik tentang penanggalan puasa berdasarkan penghitungan ilmu falak oleh hakim atau gubernur tidak ditegaskan oleh keempat mazhab”.
NU adalah organisasi yang mengikuti jalan dan ajaran Nabi, para sahbat dan ulama. Musyawarah Nasional Alim Ulama (18-21 Desember 1983) telah membuat sebuah keputusan untuk mengikuti metode melihat bulan guna menetapkan awal Ramadhan dan Idul Fitri yang disahkan oleh Muktamar NU ke 27 (1984). NU telah lama mengikuti pendapat para ulama bahwa satu penanggalan yang pasti harus ditetapkan untuk Indonesia dengan mengabaikan perbedaan aspek bulan di seluruh negeri. Melaksanakan ru’yah merupakan kewajiban agama dalam pandangan empat imam mazhab kecuali Hanbali yang mengangapnya bermanfaat saja.
Dari ketiga isi fatwa tersebut dapat disimpulkan bahwa penetapan awal Ramadhan, Syawwal, dan Dzulhijjah didasarkan pada ru’yatul hilãl dan istikmal. Meskipun hisab tidak pernah dipraktekkan pada pada masa Nabi Muhammad Saw dan Khulafaur-Rasyidin, tetapi hisab yang dilakukan para ahlinya boleh diikuti bagi yang mempercayai perhitungannya.
Rukyah yang dijadikan dasar adalah hasil rukyah di Indonesia dan berlaku seluruh Indonesia (wilãyatul hukmi), sehingga jika di salah satu bagian dari wilayah Indonesia dapat disaksikan hilãl, maka ulûl amr dapat menetapkan awal bulan berdasarkan rukyah yang berlaku seluruh Indonesia. Penetapan yang dilakukan pemerintah dengan tidak memakai rukyah, maka yang dipakai adalah rukyat yang dilakukan masyarakat, khususnya warga NU.
c.       Menurut Pemerintah
Di Indonesia penetapan awal bulan Qamariyah secara resmi dilakukan oleh Menteri Agama dalam sidang Itsbat yang dihadiri berbagai utusan Ormas Islam. Kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah untuk penetapan awal bulan Qamariyah selain Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah dilakukan berdasarkan metode hisab. Sedangkan untuk awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah dilakukan berdasarkan metode hisab-rukyat.
Peran hasil hisab sangat besar pengaruhnya terhadap laporan rukyat. Jika semua sistem hisab sepakat hilãl masih di bawah ufuk, maka selalu hilãl dilaporkan tidak terlihat, dan begitu juga sebaliknya jika semua sistem hisab sepakat menyatakan hilãl sudah di atas ufuk, maka hampir selalu hilãl dilaporkan terlihat. Adapun jika ahli hisab tidak sepakat, sebagian menyatakan hilãl di atas ufuk, sebagian lainnya menyatakan hilãl di bawah ufuk, maka seringkali hilãl dilaporkan terlihat. Proses penetapan awal Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah dimulai dengan data yang ada pada Badan Hisab Rukyat baik di Pusat maupun di Daerah, kemudian Pengadilan Agama dan Pengadilan Tinggi Agama seluruh Indonesia melaksanakan rukyat dengan mengundang unsur-unsur dari ulama, ormas Islam, Perguruan Tinggi, Badan Metreologi dan Geofisika (BMG), Instansi terkait, dan para ahli. Hasil rukyat tersebut kemudian dilaporkan kepada Menteri Agama untuk selanjutnya dibawa dan dibahas dalam sidang Itsbat yang dihadiri berbagai unsur ormas Islam. Pada sidang Itsbat itu diputuskan hasil penetapan awal Ramadhan, Syawwal, dan Dzulhijjah yang selanjutnya Menteri Agama mengumumkan secara terbuka kepada seluruh masyarakat Muslim Indonesia.
Kriteria imkãnur ru’yat yang dipakai oleh pemerintah adalah kriteria yang disepakati bersama MABIMS (Menteri-menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura), yaitu : (1) tinggi bulan minimum 2 derajat, (2) jarak bulan-matahari minimum 3 derajat, dan (3) umur bulan saat maghrib minimum 8 jam.
d.      Aliran Hisab
 Hisab merupakan proses penetapan awal bulan dengan menggunakan metode ilmu hitung. Dasar pijakan aliran Hisab adalah firman Allah : Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). {QS. Yunus : 5}
Aliran ini mulai berkembang sejak masa Dinasti Abbasiyah (abad ke-8 M). Menurut aliran hisab, ru’yah dapat dipahami melalui prediksi/perkiraan posisi bulan dalam ilmu hisab. Awal dan akhir bulan tidak ditentukan oleh irtifa’ (ketinggian) hilal. Jika menurut ilmu hisab hilal telah tampak, berapa pun ketinggiannya maka hitungan bulan baru sudah masuk.

4.      Alasan muhammadiyah lebih menggunakan metode hisab
Argumen Muhammadiyah dalam berpegang kepada Hisab seperti yang disampaikan Prof. Dr. Syamsul Anwar, M.A. berikut:
Pertama, semangat Al Qur’an adalah menggunakan hisab. Hal ini ada dalam ayat “Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan” (QS. 55:5). Ayat ini bukan sekedar menginformasikan bahwa matahari dan bulan beredar dengan hukum yang pasti sehingga dapat dihitung atau diprediksi, tetapi juga dorongan untuk menghitungnya karena banyak kegunaannya. Dalam QS. Yunus (10) ayat 5 disebutkan bahwa kegunaannya untuk mengetahi bilangan tahun dan perhitungan waktu.
Kedua, jika spirit Qur’an adalah hisab, mengapa Rasulullah Saw menggunakan rukyat? Menurut Rasyid Ridha dan Mustafa Az-Zarqa, perintah melakukan rukyat adalah perintah ber-ilat (beralasan). Ilat perintah rukyat adalah karena ummat zaman Nabi Saw adalah ummat yang ummi, tidak kenal baca tulis dan tidak memungkinkan melakukan hisab. Ini ditegaskan oleh Rasulullah Saw dalam hadits riwayat Al Bukhari dan Muslim, “Sesungguhnya kami adalah umat yang ummi; kami tidak bisa menulis dan tidak bisa melakukan hisab. Bulan itu adalah demikian-demikian. Yakni kadang-kadang dua puluh sembilan hari dan kadang-kadang tiga puluh hari.”
Dalam kaidah fiqhiyah, hukum berlaku menurut ada atau tidak adanya ilat. Jika ada ilat, yaitu kondisi ummi sehingga tidak ada yang dapat melakukan hisab, maka berlaku perintah rukyat. Sedangkan jika ilat tidak ada (sudah ada ahli hisab), maka perintah rukyat tidak berlaku lagi. Yusuf Al Qardawi menyebut bahwa rukyat bukan tujuan pada dirinya, melainkan hanyalah sarana. Muhammad Syakir, ahli hadits dari Mesir yang oleh Al Qaradawi disebut seorang salafi murni, menegaskan bahwa menggunakan hisab untuk menentukan bulan Qamariah adalah wajib dalam semua keadaan, kecuali di tempat di mana tidak ada orang mengetahui hisab.
Ketigadengan rukyat umat Islam tidak bisa membuat kalender. Rukyat tidak dapat meramal tanggal jauh ke depan karena tanggal baru bisa diketahui pada H-1. Dr. Nidhal Guessoum menyebut suatu ironi besar bahwa umat Islam hingga kini tidak mempunyai sistem penanggalan terpadu yang jelas. Padahal 6000 tahun lampau di kalangan bangsa Sumeria telah terdapat suatu sistem kalender yang terstruktur dengan baik.
Keempat, rukyat tidak dapat menyatukan awal bulan Islam secara global. Sebaliknya, rukyat memaksa umat Islam berbeda memulai awal bulan Qamariah, termasuk bulan-bulan ibadah. Hal ini karena rukyat pada visibilitas pertama tidak mengcover seluruh muka bumi. Pada hari yang sama ada muka bumi yang dapat merukyat tetapi ada muka bumi lain yang tidak dapat merukyat.  Kawasan bumi di atas lintang utara 60 derajat dan di bawah lintang selatan 60 derajat adalah kawasan tidak normal, dimana tidak dapat melihat hilal untuk beberapa waktu lamanya atau terlambat dapat melihatnya, yaitu ketika bulan telah besar. Apalagi kawasan lingkaran artik dan lingkaran antartika yang siang pada musim panas melebihi 24 jam dan malam pada musim dingin melebihi 24 jam.
Kelima, jangkauan rukyat terbatas, dimana hanya bisa diberlakukan ke arah timur sejauh 10 jam. Orang di sebelah timur tidak mungkin menunggu rukyat di kawasan sebelah barat yang jaraknya lebih dari 10 jam. Akibatnya, rukyat fisik tidak dapat menyatukan awal bulan Qamariah di seluruh dunia karena keterbatasan jangkauannya. Memang, ulama zaman tengah menyatakan bahwa apabila terjadi rukyat di suatu tempat maka rukyat itu berlaku untuk seluruh muka bumi. Namun, jelas pandangan ini bertentangan dengan fakta astronomis, di zaman sekarang saat ilmu astronomi telah mengalami kemajuan pesat jelas pendapat semacam ini tidak dapat dipertahankan.
Keenam, rukyat menimbulkan masalah pelaksanaan puasa Arafah. Bisa terjadi di Makkah belum terjadi rukyat sementara di kawasan sebelah barat sudah, atau di Makkah sudah rukyat tetapi di kawasan sebelah timur belum. Sehingga bisa terjadi kawasan lain berbeda satu hari dengan Makkah dalam memasuki awal bulan Qamariah. Masalahnya, hal ini dapat menyebabkan kawasan ujung barat bumi tidak dapat melaksanakan puasa Arafah karena wukuf di Arafah jatuh bersamaan dengan hari Idul Adha di ujung barat itu. Kalau kawasan barat itu menunda masuk bulan Zulhijjah demi menunggu Makkah padahal hillal sudah terpampang di ufuk mereka, ini akan membuat sistem kalender menjadi kacau balau.
Meskipun metode rukyat lebih jarang digunakan dalam penentuan awal puasa dan idul fitri, namun metode rukyat dapat membantu menguatkan dari metode hisab (perhitungan).




BAB III
PENUTUP


1.      Kesimpulan
Dari penulisan tersebut dapat disimpulkan bahwa perbedaan penentuan awal ramadhan dan 1 syawwal disebabkan karna berbedanya dalam memahami teks-teks bacaan yang terdapat pada ayat Al Quran dan Hadits Rasulullah SAW. Karena sesungguhnya jika kedua metode tersebut (hisab dan rukyat) digunakan bersama atau dikolaborasikan maka akan lebih memudahkan dan saling mengisi kekurangan serta menutupi kekurangan masing-masing dalam penentuan puasa ramadhan dan hari raya.  

2.      Daftar Pustaka
·         Al-Qur’an dan Terjemah.
·         Azhari, Susiknan. Ilmu Falak: Perjumpaan Khazanah Islam dan Sains Modern, Suara Muhammadiyah, Yogyakarta, 2007.
·         _____________. Hisab dan Rukyat: Wacana untuk Membangun Kebersamaan di Tengah Perbedaan, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2007.
·         Amhar, Fahmi. Seputar Hisab dan Rukyat 1427 H, Suara Islam, Minggu I-II Oktober 2006.
·         Salam, Abd. Tradisi Fiqh Nahdlatul Ulama (NU): Analisis terhadap Konstruksi Elite NU Jawa Timur tentang Penentuan Awal Bulan Islam, Ringkasan Disertasi, IAIN Sunan Ampel Surabaya, 2008.
·         www.tdjamaluddin.wordpress.com
http://mutiary.wordpress.com/2010/12/01/metode-hisab-dan-metode-rukyat/
http://www.trijayafmplg.net/opini/2011/08/ini-dia-jawabannya-kenapa-terjadi-perbedaan-penetapan-1-syawal/
http://kalsel.muhammadiyah.or.id/artikel-mengapa-muhammadiyah-memakai-sistem-hisab--dalam-penetapan-awal-bulan-qamariyah-detail-268.html
http://www.pta-semarang.go.id/artikel/PENYIMPULAN IDE HUKUM ISLAM TTG RUKYAT HILAL.pdf

3 komentar:

  1. Assalamu'alaikum w.w.
    Mungkin ada asbabun nuzul dari hadis-hadis yang kurang begitu dibahas/dipahami. Menurut saya hadis yang menjadi dasar rukyat itu adalah untuk memperjelas Ayat 185 surah Albaqarah dan diperuntukkan khusus bagi masyarakat yang pada waktu itu pendidikannya masih rendah. Potongan ayat 185 itu berbunyi, "Faman syahida minkumusy syahra falyashumhu". Kata syahida bisa berarti 'bersaksi, mengetahui, sadar atau yakin'setelah adanya suatu kajian, penelitian, perhitungan atau pembahasan. Dan tidak bisa kata syahida diartikan 'melihat dengan mata'. Kemudian kata syahra yang berarti bulan untuk dirangkaikan dengan nama-nama bulan seperti syahru Ramadhan tidak sama dengan qamar yang tergantung di langit dan kelihatan sebagai bulan sabit atau hilal, bulan purnama dan lain-lain.
    Ayat tersebut sudah sangat jelas maksudnya yaitu 'Barang siapa yang bersaksi (setelah meneliti, mengakaji, menghitung, membahas)masuknya bulan Ramadhan (bukan bulan sabit atau hilal)maka hendaklah berpuasa.
    Berikutnya karena karena kurangnya pengetahuan, umat Islam masih tetap bertanya sehingga muncullah hadis tentang hilal. Untuk lebih menjelaskan lagi Allah SWT melanjutkan dengan firmannya pada ayat 189 surah AlBaqarah dengan mengatakan bahwa hilal itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia. Tidak ada ungkapan yang menghubungkannya dengan masuknya bulan Ramadhan.
    Demikian semoga bisa bermanfaat.
    Wassalamu'alaikum w.w.
    Idwar Ruslan

    BalasHapus